Kehancuran
WorldCom sebenarnya terjadi karena kerapuhan kondisi finansialnya. Untuk
menutupi defisit kasnya, manajemen WorldCom memanipulasi laporan keuangan,
sehingga kinerjanya jadi kelihatan cantik. Caranya sebenarnya terbilang
elementer (tapi tampaknya ditutup-tutupi oleh akuntannya, Arthur Andersen),
yakni dengan menyulap biaya sewa yang seharusnya merupakan biaya operasional
rutin yang akan mengurangi pendapatan pada tahun yang sama menjadi biaya
investasi, sehingga bisa disebar untuk jangka 10 tahun. Biaya yang disulap oleh
WorldCom per kuartalnya sebesar US$ 500-800 juta. Dengan manipulasi data
seperti ini, WorldCom bisa melaporkan laba bersih US$ 1,4 miliar pada kuartal
I/2001 dan US$ 172 juta pada kuartal I/2002. Padahal, kalau manajemen WorldCom
melaporkan apa adanya, selama lima kuartal rapornya akan merah. Inilah
informasi yang menyesatkan para investor dan kreditor.
Selepas pelengseran Bernard J.
Ebbers (pendiri WorldCom) sebagai CEO, penggantinya John Sidgmore menyewa
akuntan baru, KPMG, untuk meneliti kejanggalan keuangan WorldCom. Dengan
gampang kemudian diketahui, bahwa Scott D. Sullivan, CFO WorldCom, dengan sengaja
telah memasukkan US$ 3,85 miliar (dari total biaya sewa jaringan yang pada 2001
saja mencapai US$ 8,12 miliar) ke pos yang tak seharusnya. Sang CFO pun
langsung dipecat. Akan tetapi, investor publik dan kreditor telanjur kehilangan
dana besar, sekaligus makin memupuskan kepercayaan publik.
Satu lagi penyebab yang menonjol
terhadap peristiwa WorldCom adalah adanya sifat keserakahan pada Bernard J.
Ebbers ( pendiri WorldCom ) hal itu terlihat ketika meminjam uang perusahaan
untuk memborong saham WorldCom (yang diyakininya akan terus naik) dengan
mekanisme transaksi margin yang akhirnya pinjaman tersebut tak mampu
dikembalikan Ebbers.
Skandal keuangan yang terjadi di Amerika Serikat yang dimulai dengan skandal Enron, Worldcom makin terus menekan kinerja Bursa Saham di Amerika. Skandal keuangan ini membuat masyarakat perlu mengamati lebih lanjut peran eksekutif perusahaan (CEO dan CFO), perusahaan akuntan, investment banker, investor, dan regulator dalam kontribusinya terhadap krisis keuangan.
Skandal keuangan yang terjadi di Amerika Serikat yang dimulai dengan skandal Enron, Worldcom makin terus menekan kinerja Bursa Saham di Amerika. Skandal keuangan ini membuat masyarakat perlu mengamati lebih lanjut peran eksekutif perusahaan (CEO dan CFO), perusahaan akuntan, investment banker, investor, dan regulator dalam kontribusinya terhadap krisis keuangan.
Salah satu sebab utama dari
kebangkrutan WorldCom adalah sikap serakah dari eksekutif senior yang didukung
oleh sistem insentif kompensasi yang keterlaluan. Insentif yang dimaksud adalah
sistem stock option yang mengizinkan eksekutif membeli saham dari perusahan
yang mereka kelola. Sering kali jauh di bawah harga pada waktu itu. Sistem ini
menyebabkan eksekutif perusahaan mencoba memaksmimalkan nilai saham dari
perusahaan. Meningkatkan nilai perusahaan memang telah menjadi kredo bagi para
ekseutif, tetapi sayangnya meningkatkan harga saham kadang-kadang dilaksanakan
dengan cara yang tidak etis dan sering kali melanggar aturan atau hukum.
Perusahaan menjadi cenderung memalsukan atau memberikan keadaan keuangan yang
tidak akurat dan dibesar-besarkan asalkan harga saham mereka terus naik.
Sebab lain dari kegagalan adalah
kurangnya independensi akuntan dan analis keuangan. Ketidakakuratan dari
data-data keuangan sering kali juga tidak ”tertangkap” oleh tim audit. Dalam
hal ini, kredibilitas akuntan menjadi pertanyaan. Tidaklah mengejutkan bila hal
ini sampai terjadi. Soalnya, dalam banyak kasus, perusahaan akuntan yang
melakukan audit pada saat yang bersamaan juga memberikan jasa konsultasi kepada
perusahaan tersebut. Ketakutan akan kehilangan account yang penting sering kali
membuat tim audit tidak membeberkan indikasi terjadinya ketidakwajaran dalam
pembukuan.
Pertanyaan:
3. Bagaimana seharusnya
dewan direksi mencegah manipulasi yang dilakukan manajemen?
Jawab : Seharusnya dewan direksi harus lebih
memantau apa yang dilakukan oleh pihak manajemen dan setiap keputusan yang akan
dilakukan oleh manajemen hendaknya pihak menajemen meminta persetujuan dari
dewan direksi.
4. Bernie Ebbers
bukanlah seorang akuntan, jadi dia membutuhkan kerjasama dengan akuntan untuk
membuat manipulasi laporan. Mengapa akuntan
worldcom mau melakukan manipulasi tersebut?
Jawab : Hal
mungkin disebabkan karena kekuasaan Ebbers selaku CEO dari Worldcom sehingga Ebbers
mudah mengintimidasi CFO (chief financial officer) Scott Sullivan untuk
menutupi pengeluaran yang tidak terkontrol yang mencapai miliaran dolar .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar